Guru Yang Tak Dirindukan

Oleh: Saidina Ali, SGI

Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Guru pula merupakan kunci utama ketercapaian tujuan pendidikan. Seberapa kali pun kurikulum berganti, sebaik apapun kurikulum yang racik tim ahli, tetap saja penentu utama keberhasilan sebuah kurikulum adalah guru yang menyampaikannya di dalam kelas. Oleh karena itu untuk menjamin kualitas mutu seorang guru tidak boleh kepalang tanggung. Rugi besar bila miliar rupiah dihabiskan untuk menciptakan serangkaian instrumen untuk mencapai tujuan pendidikan namun kandas di tangan seorang guru yang tak mampu menyerap dan menyampaikan content materi.

Belakangan ini marak di wacanakan tentang pendidikan karakter, bahkan beberapa kepala daerah dengan pongah menyampaikan akan menerapkan kurikulum mulok (red. Muatan lokal) bermuatan pendidikan agama. Tentunya kebijakan yang begitu bagus ini menjadi isapan jempol jika kondisi guru di sekolah tidak diperbaiki terlebih dahulu.

Kalau kita memandang objektif, kurikulum terbaru di Indonesia sebenarnya sudah sangat bagus dalam membentuk karakter peserta didik, yang menjadi kendala sebenarnya adalah ketidakmampuan guru dalam menyerap dan mentransfer content kurikulum dengan baik kepada siswa.

Guru yang tak dirindukan dapat dipastikan merupakan bagian dari guru yang belum mampu menghayati kurikulum yang ada saat ini. Guru yang seharusnya “digugu dan ditiru” belum dapat menjadi teladan bagi siswa-siswanya. Tidak sedikit di beritakan tentang guru yang berbuat asusila terhadap siswanya, guru yang suka mengintimidasi siswanya, mengkriminalisasi siswanya, dan perbuatan keji lainnya yang sangat mencoreng nama mulia seorang guru.

Dalam kasus yang lebih sederhana juga banyak didapati guru yang tidak disiplin dalam menjalankan tugasnya sebagai guru, seperti terlambat hingga tidak masuk mengajar, mengajar ugal-ugalan, hingga guru yang tidak mau belajar yang menyebabkan kurangnya wawasan dan penguasaan terhadap  materi yang di ajarkan.

Hal ini tentunya berdampak sangat signifikan bagi perkembangan siswa dalam belajar. Siswa akan merasa ketakutan, tidak tenang dalam belajar, tertekan hingga membuat siswa enggan mengikuti pelajaran, benci terhadap mata pelajaran, siswa sama sekali tidak menemukan kebahagiaan dalam belajar. Belajar akan menjadi momok yang menakutkan dan membosankan. Alhasil content materi yang disampaikan oleh guru sama sekali tidak akan terserap oleh siswa. Karena untuk dapat menyerap materi dengan baik siswa haruslah bahagia dalam belajar. Kesimpulan sederhananya adalah kurikulum yang buat dengan begitu mahal gagal total.

Jika pada sebuah sekolah terdapat guru sebagai mana tergambar di atas maka guru ini akan sangat dinantikan ke pergiannya dari sekolah oleh para muridnya, ke tidak hadiran guru di kelas menjadi hal yang membahagiakan bagi siswa, inilah guru yang tidak dirindukan.

Dari ilustrasi di atas dapat diambil beberapa masukan positif, bagi pemangku kebijakan agar peningkatan kualitas guru menjadi prioritas utama, mengingat guru adalah salah satu faktor penentu menjadi apa generasi kita di masa depan.

Bagi seorang guru agar dapat terus meningkatkan kualitas keprofesionalannya sebagai pendidik dan sebagai teladan bagi peserta didik. Terus belajar, karena guru yang tidak mau belajar sebaiknya berhenti mengajar, guru yang tidak berniat menjadi guru sebaiknya berhenti menjadi guru. Karena seorang guru adalah perawat bangsa. Jadilah guru yang dirindukan kehadirannya, disesali ke pergiannya.

Jika pendidikan adalah investasi masa depan, maka mari kita perbaiki pendidikan untuk masa depan lebih baik. Karena banyak yang bekerja di dunia pendidikan, namun sangat sedikit yang bekerja untuk perbaikan  pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *