Oleh: Saidina Ali, KPG 3
Setelah masuk di halaman rumah gusdurian, semakin terasa kerdil dan kecil pribadi ini. Sebagai bagian dari tatasurya yang ada, makhluk kecil tak berkuatan dan tak ada yang dapat dibanggakan, hanya status sebagai makhluk Tuhan lah yang meneguhkan eksistensi di muka bumi ini.
Lantas apa yang hendak dilakukan untuk bangsa ini sebagai gusdurian? Gusdurian adalah symbol kepribadian luhur. Jika melekat kepada seseorang, maka yang tertempel harus selaras dengan nilai-nilai gusdurian. Bukan perkara mudah, namun juga tetap niscaya untuk diterapkan bagi setiap kita.
Semangat berbuat baik harus dimulai dari hal terkecil, dimulai dari diri sendiri, dimulai sejak dini. Jangan bermimpi mampu berbuat besar, jika hal-hal kecil selalu diabaikan. Maka hal realistis yang bisa dilakukan sebagai pribadi yang meneladani Gusdur adalah terus menjadi orang baik semampunya. Berbuat baik sesuai kapasitas masing-masing dimanapun bumi dipijak, dan ketika sudah habis daya untuk berbuat baik, maka cukup untuk tidak melakukan keburukan.
Hal lain pula yang dapat kita lakukan sebagai penyinta Gusdur adalah terus berbagi inspirasi baik lewat tindakan maupun edukasi lewat kisah-kisah dan keteladanan gusdur yang multi dimensi dan mudah diterima masyarakat diberbagai lapisan social. Selain terus memperkokoh silaturahmi sasama gusdurian di masyarakat, silaturahmi antar ummat juga dapat terus kita pupuk dilingkungan terdekat.
Sederhananya, meneladani gusdur dapat diterapkan atas diri sendiri, yakni menjadi pribadi yang baik dan menebar kebaikan. Menjadi ayah yang baik dalam rumah tangga. Menjadi guru yang memberikan keteladanan bagi murid-murid. Menjadi masyarakat yang menentramkan dalam lingkungan tempat tinggal. Menjadi bagian dari solusi bagi masalah-masalah yang negara hadapi.
Selain menjadi subjek kebaikan, gusdur juga mengajarkan kita untuk selalu memperjuangakan kebenaran, melawan kebatilan dan penindasan. Sebagai mayoritas harus melindungi minoritas, sebagai minoritas harus menjadi sumber solusi. Dalam berjuang untuk kebanaran tidak ada kata berhenti, bahkan perjuangan gusdur tetap hidup walau jasadnya sudah mati. Dalam menyuarakan kebenaran dan melawan kemungkaran kita dituntun untuk selalu dengan cara yang arif dan bijak, menghindari kekerasan dan pemaksaan. Menyuarakan kebenaran dalam narasi kata-kata dan ajakan-ajakan yang menggembirakan. Bila tiada mampu menyuarakan secara lisan, suarakan lah melalui tulisan. Lawan penindasan dengan kekuatan kata-kata. Terus berpegang teguh kepada hukum positif negara yang bersumber dari Panca Sila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan mengejawantahkan Bhineka Tunggal Ika sejak dalam pikiran.
