Oleh: Saidina Ali, KPG 3
Saat itu saya masih di bangku madrasah Tsanawiyah, kali pertama di ajak nonton bareng vidio seorang kiyai yang di do’akan oleh jamaah Kristen di dalam gereja dan di aminkan oleh ratusan jamaah. Saat itu belum saya belum punya kesimpulan penting tentang kejadian tersebut. Hanya seperti angin lalu tak ada kesan sinis maupun kagum. Seiring waktu belajar hingga di bangku kuliah, berulang kali dipertemukan lewat buku dan media dengan sosok Kiyai yang didoakan, Kiyai yang bersentuhan dengan ragam dinamila politik kebangsaan, barulah rasa kagum itu menyeruak.
Gus Dur dalam kepungan fitnah lawan politik, tetap mampu berdiri tegak dengan pendirian yang kokoh, menegakan toleransi tanpa sedikitpun menundukan nilai tauhid dalam dirinya. Merawat perbedaan dan keragaman tanpa menodai keyakinan dan kepercayaanya. Tebar cinta Gus Dur kepada sesama manusia justru mencerminkan kemurnian tauhid yang di syi’arkannya.
Lewat satire berbalut guyong Gus Dur selalu bilang “Tuhan tidak perlu dibela”, cerminkan seorang ulama yang rendah hati dan pesan damai yang disampaikan dengan damai kepada umat beragama di belahan dunia. Kepada umat islam Gus Dur juga menyatir saat ditanya apa tanda-tandanya keras hati?. Gus Dur menjawab “Saat melihat gereja kau takut imanmu runtuh. Tapi saat membaca Qur’an tak sedikitpun hatimu tersentuh”.
Belajar dari kokohnya ketauhidan Gus Dur yang seiring dengan indahnya pakaian toleransi yang selalu melekat pada dirinya membuat saya lebih santai dan nyaman dalam bergaul dengan siapapun, dari agama manapun, dari suku apapun. Tidak ragu-ragu dan takut ternoda iman saat masuk tempat-tempat ibadah tiap-tiap agama dalam bingkai persaudaraan dan jalinan silaturahmi.
Nilai-nilai kesederhanaan Gus Dur juga menjadi bekal perjalanan dan inspirasi tersendiri bagi saya. kesederhanaan Gus Dur dalam berfikir, bertindak, dan berinteraksi social dicerminkan dalam quotes populernya “Gitu Aja Kok Repot”. Salah satu kisah kesederhanaan Gus Dur dalam rumah tangga saya dengarkan dari penuturan Ust.Tengku Zulkarnaen (Alm), yang terilhami dari kesederhaan dan adab Gus Dur terhadap Istri dan makanan. Kisah ini menjadi menarik bagi saya karena yang menceritakanya adalah sosok yang tegas dan biasa berbeda pendapat dengan tokoh-tokoh NU kekinian. Diceritakan beliau pernah menangis saat menyaksikan siaran TV yang menayangkan Ibu Sinta Nuriah yang bercerita tentang Gus Dur yang selama usia pernikahanya tidak pernah komplen dan mengeluh tentang makanan. Sebuah kebiasaan sederhana yang terkadang sulit untuk di jalankan bahkan oleh orang yang cerdas dan faham agama.
Salah satu kisah lain dari Gus Dur yang menginspirasi saya dalam menjalankan aktivitas berhimpun dan berorganisasi adalah saat Gus Dur mengangkat Prof.Mahfud sebagai menteri pertahanan RI. Kisah ini juga saya dengar langsung dari Prof.Mahfud dalam ceramahnya di Pontianak saat saya masih mahasiswa. Singkat cerita Prof. Mahfud sempat menolak saat mengetahui akan ditugaskan sebagai menteri pertahanan yang semula dikira oleh Prof. Mahfud adalah menteri pertanahan. Prof. Mahfud menolak dengan alasan tidak memiliki pengalaman dibidang pertahanan. Begini kurang lebih yang dikatakan Gus Dur kepada Prof. Mahfud saat itu yang menurut saya lucu namun sarat makna, “Lho Pak Mahfud kan profesor. Saya aja jadi presiden bisa padahal enggak punya pengalaman tapi bisa jadi presiden. Masak Pak Mahfud jadi Menteri Pertahanan enggak bisa.”
Kisah ini kemudian saya jadikan motivasi untuk selalu siap menerima beban tanggung jawab kepemimpinan tanpa harus mengeluh karena tidak memiliki pengalaman sebelumnya dibidang tersebut. Inspirasi ini pula yang jadi bekal saya berani melamar sendiri calon istri saya tanpa didampingi siapapun dan inspirasi ini pula menjadi motivasi buat saya untuk berani memutuskan menjadi pemimpin rumah tangga walaupun belum punya pengalaman sebelumnya.
