Oleh: Saidina Ali, KPG 3
Selaku pembelajar, saya berkenalan dengan sosok KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memang lebih banyak dari lewat buku-buku pelajaran, utamanya tentang sejarah Indonesia. Berbicara tentang sejarah Indonesia menang tidak bisa dilepaskan dari sosok Gus Dur karena beliau tercatat sebagai Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia menggantikan Presiden B.J. Habibie setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilu 1999.
Membaca Indonesia secara vertical, kita juga akan berjumpa dengan sederetan nama-nama besar yang bertalian langsung dengan Gus Dur. Ayahnya bernama KH. Wahid Hasyim yang merupakan putra dari KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia dan sekaligus pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang.
Ibunya bernama Hj. Sholehah merupakan putri KH. Bisri Syamsuri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, Jawa Timur. Kakek Gus Dur dari sanad ibunya merupakan Rais ‘Aam di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai pengganti posisi KH. Wahab Chasbullah.
Perjumpaan selanjutnya saya dengan Gus Dur lebih banyak lewat buku-buku yang menceritakan tentang selera Humor Jenius Gus Dur yang sangat menonjol sehingga menjadi icon bagi saya bahwa Gus Dur itu Jenius yang lucu. Banyak satire dan kritikan tajam pedas yang disampaikan Gus Dur lewat guyonan, membuat pesan yang ingin disampaikan Gus Dur mendarat dengan baik tanpa melukai dan membuat orang yang dinasehati menjadi marah. Sebuah keterampilan langkah yang seyogiayanya dimiliki oleh para pendakwah dan guru-guru kekinian.
Saat ini saya lebih sering menjumpai Gus Dur lewat video-video documenter Gus Dur semasa hidupnya. Salah satu video documenter yang sering saya tonton berulang-ulang tanpa bosan adalah wawancara Gus Dur dalam acara Kick Andy (Andy F Noya). Ada banyak ungkapan-ungkapan nyentrik Gus Dur dalam acara ini yang melampaui zamannya, dan setiap kali statmen Gus Dur yang melampaui zamannya itu terjadi saya selalu konfirmasi kembali lewat video ini.
Salah satu video yang juga berkesan bagi saya adalah testimony KH.Tengku Zulkarnaen (Alm) tentang Gus Dur. Beliau mengakui sangat terinspirasi dengan sikap kesederhanaan Gus Dur yang tidak pernah protes atau mengeluh mengenai makanan yang disuguhkan Ibu Sinta kepada Gusdur. Sebuah keteladan sederhana yang bersandar kepada keteladanan Nabi Muhammad SAW. namun tidak banyak dari kita yang mampu mengamalkannya.
Dalam masa jabatannya yang singkat sebagai Presiden RI ke-4, hanya sekitar 20 bulan saja Gus Dur mampu menelurkan banyak kebijakan dan terobosan yang tak lekang oleh waktu, jauh melampai eranya, dan terus terasa kebermanfaatannya hingga generasi saat ini. Pakaian Pluralisme yang digunakan Gus Dur benar-benar menjadi perekat bagi keutuhan anak bangsa dari terpaan angin perpecahan yang terus dihembuskan dari berbagai arah di era globalisasi. Pluralisme Gus Dur terus menjadi warisan keteladanan yang sangat bernilai dan cerah menginspirasi dunia.
Andaikata saya berkesempatan duduk ngopi santai bersama Gus Dur, ungkapan pertama yang ingin saya sampaikan adalah ucapan terimakasih telah menginspirasi generasi saya. Terimakasih sudah mengisi ruang-ruang tandus perpolitikan Indonesia dengan guyonan berkelas. Gus, hari ini DPR benar-benar menjadi seperti Kelompok Bermain (playgroup)J. Banyak yang bermain-main sambil berkelompok-kelompokJ. Main kotor-kotoran, main lakon-lakonan, berantem-berantemanJ. Oh..iya Gus, sepertinya tikus sudah menguasi lumbung padi, bagaimana cara membakarnya? J
Gus, Do’akan Papuamu kembali aman dan tentram, indah dan tetap menjadi syurga kebanggaan Indonesia. Kami rindu jurus mabok Gud Dur selesaikan masalah bangsa, Rindu kelakar Gus Dur ceriakan anak bangsa, Rindu lantunan Sholawat Gus Dur tentramkan jiwa-jiwa gersang ummat. Salam rindu, sungkem jabat erat Gus Dur.
